Jumat, 20 Maret 2009

tugas bi

MAKALAH

LASKAR PELANGI

“Pelajaran Hidup yang Terkandung dalam Novel dan Pengaruhnya Terhadap Pembaca”


Oleh: Venni Budi Cahyani

Kata Pengantar

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, penulis panjatkan puji syukur kehadirat-Nya atas rahmat dan Hidayah-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis selama penyusunan makalah yang berjudul “Pelajaran Hidup yang Terkandung dalam Novel LASKAR PELANGI dan Pengaruhnya Terhadap Pembaca.”

Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung terselesaikannya makalah yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Dengan terselesaikannya makalah ini penulis berharap semua informasi yang terdapat dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Meskipun telah mengerahkan segenap kemampuan, penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan di dalamnya. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan pembaca bersedia memberikan saran dan kritik serta petunjuk yang sifatnya membangun agar makalah ini menjadi lebih baik. Selain itu kami juga memohon maaf kepada pembaca apabila pembaca tidak puas dengan makalah ini.

Kutowinangun, 9 Oktober 2008

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Melihat perkembangan novel-novel yang beredar di pasaran saat ini, novel best seller sekalipun seringkali isinya kosong, dangkal, dan terkadang membodohkan pembaca. Para penulisnya lebih mementingkan nilai komersial dari novel tersebut dengan menyajikan tulisan-tulisan yang mengisahkan kehidupan glamour, remaja yang sempurna, dan kisah cinta yang didramatisasi. Jarang sekali kita menemukan novel yang sarat pelajaran hidup dari semua aspek mulai dari persahabatan, semangat juang, pendidikan, kondisi lingkungan, kondisi sosial budaya sampai pola pikir yang berpegang teguh pada islam. Sampai pada akhirnya buku Laskar Pelangi diterbitkan. Semua pelajaran hidup dapat kita temukan setelah membacanya. Salah satu karya terbaik penulis kita yang menurut saya patut dan sangat layak saya rekomendasikan untuk para pembaca novel, jenis novel yang tidak melulu menceritakan masalah percintaan atau exploitasi terhadap kisah cinta, lebih menonjolkan pada permasalahan sehari-hari yang menjadi polemik dalam masyarakat Indonesia, yang terjadi pada kaum marginal lebih tepatnya. Bagaimana keadaan sebenarnya dari sistem pendidikan kita yang menganaktirikan pengembangan pendidikan di daerah,dan bagaimana perjuangan para anak-anak daerah itu untuk mengecap pendidikan Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat judul ”Pelajaran Hidup yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi serta Pengaruhnya terhadap Pembaca.”

B. Rumusan Masalah

Ada beberapa permasalahan yang nantinya akan dijadikan tujuan dan akan dibahas pada Bab II. Yaitu :

1 Apakah isi cerita dari novel Laskar Pelangi ?

2 Apakah kelebihan dan kekurangan dari penulisan Laskar Pelangi ?

3 Apa sajakah pelajaran hidup yang terkandung di dalam buku Laskar Pelangi ?

4 Apakah pengaruh dari novel Laskar Pelangi bagi orang-orang yang sudah membacanya ?

C. Tujuan

Tujuan disusunnya makalah ini adalah :

1. Mengetahui isi cerita dari novel Laskar Pelangi.

2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan dari penulisan Laskar Pelangi.

3. Mengetahui pelajaran hidup yang terkandung di dalam buku Laskar Pelangi.

4. Mengetahui pengaruh dari novel Laskar Pelangi bagi orang-orang yang sudah membacanya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Intisari Cerita Novel Laskar Pelangi

Novel ini bercerita tentang kisah heroik kenangan sebelas anak Belitong yang tergabung dalam ”Laskar Pelangi”: Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar, Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya.

Menceritakan semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah, daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai sepuluh orang. kesebelas anak itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas ekonomi.

Kesebelas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Di antara sebelas anak Laskar Pelangi itu, Lintang dan Mahar adalah dua diantara yang paling menonjol. Lintang jenius dalam bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada tara dalam belajar. Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hingga akan tercium karet terbakar dari sepatunya yang aus digerus pedal sepeda. Jika ada aral melintang di jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah baginya, asal dapat menyanyikan lagu ”Padamu Negeri” pada akhir jam pelajaran

Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi. Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival 17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Pohon itu pulalah yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cina, anak pemillik toko Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik.

Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan mimpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib? Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang sungguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap. Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib jualah yang menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak bangsa yang harus terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan.

Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya. Tapi Lintang punya jawaban, ” jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan….” Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah, kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

B. Kelebihan dan Kekurangan dalam Penulisan Novel Laskar Pelangi

Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari penulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bahkan menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi.

Novel ini juga memuat glossarium lebih dari seratus entri yang sebagian besar berisi entri nama-nama latin tumbuh-tumbuhan, hewan, mineral yang ada dalam perut bumi, makanan, istilah ekonomi, budaya dan lainnya. Dari segi alur cerita novel ini sepertinya akan memikat pembacanya untuk segera menyelesaikan novel inspiratif ini. Kalimat-kalimatnya enak dibaca dan mengalir secara lancar.

Namun kemunculan nama-nama latin dari tumbuh-tumbuhan sepertinya akan membuat kelancaran membaca novel ini menjadi sedikit tersendat. Selain itu eksplorasi tokoh Lintang yang jenius disaat berdebat dengan seorang guru dari kota pada saat lomba cerdas cermat terasa tidak logis bagi seorang anak SMP karena di bagian ini Lintang dengan fasih memaparkan prinsip-prinsp optik Descrates, Newton, sampai Hooke.Namun karena kisah ini dikemas dalam bentuk fiksi maka batas antara fakta dan fiksi kiranya tak perlu diperdebatkan. Pada intinya novel Laskar Pelangi menyampaikan pesan mulia bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk berhenti belajar dan bukan tak mungkin sebuah sekolah kecil dengan segala keterbatasannya ternyata mampu melahirkan kretaivitas-kreativitas yang melampaui sekolah-sekolah favorit yang telah mapan baik dari segi fisik maupun pengajarannya.Selain itu kehadiran Novel Laskar Pelangi ini setidaknya akan membuktikan bahwa penulis lokal mampu menghasilkan sebuah novel yang menggugah dan inspiratif yang selama ini sepertinya didominasi oleh penulis-penulis asing.

Keseluruhan kisah Laskar Pelangi ini tersaji dengan sangat memikat. Pembaca akan dibuat tercenung, menangis dan tertawa bersama kepolosan dan semangat juang para Laskar Pelangi. Namun tak hanya itu saja, novel ini juga sangat berpotensi untuk memperluas wawasan pembacanya. Deskripsi lingkungan Kampung Melayu Belitong yang dideskripsikan secara jelas dan memikat membuat pembaca novel ini akan mengetahui kondisi lingkungan dan kondisi sosial budaya masyarakat Kampung Melayu Belitong yang hidup dibawah garis kemiskinan yang ironisnya ternyata hidup berdampingan dengan komunitas masyarakat gedong PN Timah yang hidup dengan segala kemewahan dan fasilitas yang lebih dari cukup.

C. Pelajaran Hidup dari Novel Laskar Pelangi

Novel ini banyak mengandung pelajaran hidup yang bisa jadi sangat berarti bagi kita yang hidup di zaman modern, teknologi komunikasi dan informasi berkembang pesat, transportasi semakin mudah karena tersedia banyak kendaraan. Dalam semua kemudahan yang kita peroleh tersebut terkadang kita menjadi malas untuk belajar, menyia-nyiakan waktu kita untuk bermain – main. Kita terkadang lupa menyukuri rahmat dan anugrah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita sehingga kita bisa belajar dengan fasilitas yang memadai, dengan guru yang berkualitas, gedung yang layak, tanpa kekurangan satu apapun.

Kita seharusnya belajar dari anak – anak Belitong tersebut yang berjuang mati – matian untuk bisa memperoleh pendidikan di tengah semua keterbatasan yang mereka miliki. Mereka bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika hujan, dan papan tulis yang berlubang hingga terpaksa ditambal dengan poster Rhoma Irama. Salah satu muridnya, Lintang, setiap hari ia harus mengayuh sepeda tua yang sering putus rantainya ke sekolah. Pulang pergi sejauh 80 km. Bahkan harus melewati sungai yang banyak buayanya. Tetapi ia tak pernah membolos satu hari pun. Mengapa kita yang diberi kemudahan dengan tempat sekolah yang tidak begitu jauh dan alat transportasi yang mudah didapatkan justru masih sering malas untuk berangkat sekolah? Betapa bodohnya kita yang masih menyia – nyiakan kesempatan pendidikan yang kita punya.

Oleh karena itu pelajaran hidup yang pertama dari novel ini yaitu kita tidak boleh menyia – nyiakan kesempatan pendidikan yang kita miliki. Kita harus rajin untuk berangkat ke sekolah, rajin belajar, selalu memperhatikan guru, dan memjaga semua fasilitas pendidikan yang kita miliki.

Dalam novel ini juga diceritakan bagaimana hubungan yang erat anak Belitong dengan kawan – kawannya, serta tatakrama antara anak dan orang tua mereka. Meski orang tua mereka tidak mampu memberikan kehidupan yang serba kecukupan bagi mereka mereka tidak pernah mengeluh ataupun menyalahkan orang tua mereka. Si Lintang bahkan harus merelakan untuk tidak melanjutkan sekolahnya karena sang ayah meninggal dan ia harus menghidupi keluarganya.

Pelajaran hidup yang kedua yaitu kita harus saling menyayangi dengan kawan maupun saudara. Harus menghormati orang tua kita dan menghargai semua pengorbanan mereka demi melihat anak – anak mereka bahagia. Sebagai tulang punggung keluarga sudah seharusnya bertanggung jawab kepada keluarga. Bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki orang tua yang lengkap, sehingga semua kebutuhan kita masih bisa terpenuhi.

Selain itu dikisahkan tentang kehidupan masyarakat Bangka Belitung yang tetap miskin meskipun daerahnya merupakan penghasil timah yang kaya dan hasil buminya dieksploitasi habis – habisan oleh perusahaan negara. Hal yang sangat menyedihkan ini dikarenakan kurangnya SDM yang berkualitas. Sehingga tenaga ahli yang kita gunakan justru dari tenaga asing dan rakyat Belitong sendiri bekerja sebagai buruhnya dan sebagian besar lainnya tetap bekerja sebagai nelayan.

Kesalahan yang lainnya adalah pengolahan yang kurang memperhatikan lingkungan. Hasil bumi yang melimpah berupa timah dieksploitasi tanpa mempedulikan dampak lingkungan. Padahal timah termasuk barang tambang dan terbatas jumlahnya, sehingga lama – kelamaan akan habis. Jika kita tidak memanfaatkan barang tambang sesuai kebutuhan maka barang tersebut akan cepat habis dan anak cucu kita tidak bisa lagi menikmatinya. Oleh karena itu kita harus menjaga keberadaan barang – barang tambang yang bumi kita miliki dengan cara menggunakannya sesuai kebutuhan serta mengolahnya dengan cara yang ramah lingkungan.

Dalam salah satu bab di dalam novel ini dikisahkan Ikal yang patah hati karena ditinggal cinta pertamanya A Ling. Tetapi dari perpisahan tersebut, Ikal menemukan seperti suatu semangat baru dalam menjalani hidup, menemukan hal baru sebagai “pelampiasan” yang positif dari keterpurukannya karena ditinggal sang cinta pertamanya. Dan hal itulah yang membuatnya terus bersemangat. Pelampiasan itu adalah Buku Edensor yang diberikan A Ling untuk menghibur Ikal agar tidak terus – terusan bersedih.

Bagi kita para kawula muda, seringkali jadi tak bersemangat untuk melakukan aktifitas sehari – hari hanya karena ditinggal kekasih. Betapa bodohnya kita yang masih seperti itu. Kita harus tahu jodoh itu di tangan Tuhan dan cinta sejati itu membuat kita bahagia dan menjadi manusia yang lebih baik. Jika membuat kita sengsara bukanlah cinta sejati melainkan nafsu semata. Karena batasan cinta dan nafsu sangatlah tipis maka kita harus berpegang teguh pada tali agama agar tidak terjerumus cinta yang berlandaskan nafsu semata.

Pelajaran yang terakhir adalah kita harus selalu berikhtiar untuk mencari hidayah dari Tuhan, karena hidayah itu tak datang dengan sendirinya kepada kita yang hanya berdiam diri bermalas – malasan menunggu datangnya hidayah dari Tuhan. Pada novel ini diceritakan Mahar yang memiliki bakat seni yang luar biasa. Tapi sayangnya ia keblinger akan hal-hal yang berbau mistik, paranormal, klenik, dan segala hal yang berhubungan tentangnya. Apalagi setelah datangnya anggota baru LP, seorang gadis manis bernama Flo, yang sama seperti Mahar, menyukai hal-hal klenik. Bersama – sama mereka mendirikan perkumpulan orang – orang yang menyukai tantangan yang berhubungan dengan klenik. Mereka meneliti semua tempat yang dibilang wingit sampai – sampai mereka berusaha untuk menemui Tuk Bayan Tula yang hidup di pulau tak berpenghuni. Konon kabarnya Tuk Bayan Tula adalah manusia setengah siluman yang setiap orang yang pernah melihatnya akan ketakutan setengah mati dan tak akan pulang dengan selamat. Mereka berusaha menemui Tuk Bayan Tula karena nilai mereka di sekolah kian menurun karena kesibukan klenik yang mereka jalani. Setelah bertemu Tuk Bayan Tula mereka mendapat satu pelajaran berharga yaitu “Semua yang ingin kita capai harus melalui ikhtiar. Jika ingin pintar makanya belajar”. Sepulang dari pulau itu mereka menjadi rajin belajar dan tidak mempercayai hal – hal berbau klenik lagi. Mereka adalah contoh orang – orang yang berusaha mencari hidayah dari Tuhan dengan cara mencari bukti – bukti ilmiah dari isu – isu klenik di sekitar mereka.

D. Novel Laskar Pelangi menjadi Inspirasi bagi Pembaca

Novel Laskar Pelangi yang menceritakan kisah nyata perjuangan sebelas anak Belitong untuk memperoleh pendidikan di tengah semua keterbatasan fasilitas ini ternyata mampu menginspirasi banyak orang. Seorang ibu di Bandung, misalnya, mengirim surat ke Kick Andy. Isinya minta agar kisah tersebut diangkat di Kick Andy karena anaknya yang membaca buku “Laskar Pelangi” kini bertobat dan keluar dari jerat narkoba. ”Setiap malam saya mendengar suara tangis dari kamar Niko anak saya. Setelah saya intip, dia sedang membaca sebuah novel. Setelah itu, Niko berubah. Dia jadi semangat untuk ikut rehabilitasi. Kini Niko berhasil berhenti sebagai pecandu narkoba setelah membaca buku “Laskar Pelangi” ungkap Windarti Kosasih, sang ibu.

Sementara Sisca yang hadir di Kick Andy mengaku setelah membaca novel itu, terdorong untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ayah yang selama ini rusak. Begitu juga Febi, salah satu pembaca, langsung terinspirasi untuk membantu menyumbangkan buku untuk sekolah-sekolah miskin di beberapa tempat. ”Saya kagum karena anak-anak yang
diceritakan di buku itu penuh semangat walau fasilitas di sekolah itu jauh dari memadai,” ujar Febi yang juga datang ke Kick Andy untuk bersaksi.

Bab III

PENUTUP

A. Kesimpulan

* Novel Laskar Pelangi adalah novel yang bagus baik dari segi alur cerita, gaya bahasa, pelajaran moral didalamnya,sampai taburan wawasan yang diselingkan di dalamnya.

* Novel Laskar Pelangi adalah kisah nyata yang banyak memberikan pelajaran hidup bagi pembaca.

* Novel Laskar Pelangi adalah gambaran minimnya perhatian pemerintah dalam bidang pendidikan terutama di daerah terpencil.

Novel Laskar Pelangi sangat bagus untuk dibaca generasi muda yang terlena akan gelimang kemudahan ekonomi, para pendidik dan pemerintah.

* Novel Laskar Pelangi mampu menginspirasi pembacanya.

* Pelajaran terpenting dari novel ini adalah kita harus tetap semangat untuk meraih cita-cita ditengah semua keterbatasan.

* Kelebihan Novel Laskar Pelangi adalah pesan pentingnya pendidikan yang begitu mendalam, walaupun di kecamatan terpencil, masih ada kepedulian pendidikan dari tiga pilar, yakni : guru, murid dan sarana (walaupun tak memadai). Sebetulnya ada satu kurikulum dan bimbingan dari Depdikbud. Karena semangat yang tinggi, maka tiga pilar itu cukup untuk menghasilkan mutu pendidikan yang memadai.

* Kelebihan lain agar pemerintah tidak lagi terbuai dengan SDA yang sudah habis seperti timah di Bangka Belitung, sebentar lagi minyak juga pasti akan habis.

* Satu pelajaran hidup bagi kaum remaja agar tidak terlalu terhanyut dalam kesedihan ditinggal kekasih, karena hal itu sangat tidak bermanfaat bagi hidup kita.

* Kita hanya boleh percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan percaya pada hal – hal klenik adalah perbuatan syirik dan merupakan dosa besar.

B. Kritik dan saran

* Seharusnya, novel ini diakhiri pada bab 33, Anarkonisme, yang menceritakan kejatuhan BaBel (Bangka Belitung).

* Kritik bagi pemerintah sekarang, kepedulian yg belum penuh dan kurikulum pendidikan yang sering gonta - ganti. Kita tahu dan memahami bahwa untuk membangun negeri ini perlu SDM yg handal, yg tentunya perlu program pendidikan yang merata dan berkualitas. Semoga pemerintah segera tanggap dan lebih memperhatikan pendididkan di daerah terpencil.

* Kelemahannya mungkin terletak pada beberapa istilah kata bahasa daerah maupun belanda karena settingnya zaman dulu dan alurnya sedikit melompat.

C. Kata Penutup

Penulis panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan makalah ini. Namun seperti pepatah “tak ada gading yang tak retak”. Penulis menyadari ini, maka dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari rekan pembaca.

Akhirnya penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini dengan baik dan benar.

Tidak ada komentar: